Pojok Riau, PEKANBARU - Pada peringatan
Hari Guru yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 25 November,
seorang Guru bernama Nurbaiti (49) Senin (26/11/12) mendapat duka yang
mendalam karena seumur hidupnya baru mendapat tamparan dari seorang
oknum aparat pejabat Dinas Kehutanan Riau. Tamparan itu didapat Nurbaiti
disaat dirinya memarahi seorang anak didiknya tersebut, kemudian
anaknya melapor kepada bapaknya dan bapaknya langsung membalas dan
menampar si guru tersebut.
Nurbaiti Guru wali kelas di Sekolah
Dasar Negeri 81 Kecamatan Marpoyan Damai ini tidak bisa membayangkan
kejadian tersebut, karena selama hidupnya dan selama mengajar baru kali
ini dirinya mendapat perlakuan wali murid seperti itu. Nurbaiti yang
mengaku sudah mengajar selama 26 tahun tersebut merasa terpukul sekali
dan merasakan beban yang sangat berat.
"Saya tidak habis pikir
dengan apa yang terjadi ini. Seumur hidup baru kali ini saya
diperlakukan wali murid seperti itu,"ujar Nurbaiti kepada wartawan saat
ditemui di sekolahnya.
Peristiwa pemukulan yang menimpa dirinya
itu berawal dari ruang kelas 5 A, saat itu dirinya memberikan tugas
kepada muridnya dalam mata PPKN, Muhammad Rifki seorang muridnya didalam
ruang kelas tersebut terus bercerita, kemudian ditegur sang guru. Namun
tetap bercerita dengan teman yang berada disampingnya.
Setelah
ditegur beberapa kali, Nurbaiti mendekati si murid dan langsung
memarahinya dan memegang kepala sang anak sambil menyuruh anak tersebut
pulang jika tidak mau belajar. Si anak tersebut langsung mengatakan
'jangan pegang kepala saya' selanjutnya meninggalkan ruangan belajar.
Tidak
lama berselang, disaat sang guru berada didalam ruangan dan murid-murid
keluar main, wali murid dari Muhammad Rifki langsung mendatangi
Nurbaiti tanpa banyak cerita langsung menampar pipi ibu guru tersebut
sambil mengancam dengan pistol yang dipegang wali murid itu.
"Dia
tampar pipi saya, kemudian dia mengancam akan membunuh saya dan suami
serta tujuh keturunan kami sambil mengeluarkan pistol yang berada
dipinggangnya, saya benar-benar takut, meskipun cuma dikeluarkan,"ujar
Nurbaiti sambil memegang pipinya yang masih terlihat sedikit memar
tersebut.
Oknum aparat pemerintah tersebut juga melakukan
tindakan menampar guru tersebut didepan murid-murid sekolah dan didepan
guru-guru yang lain."Dengar dia marahi saya dilokal murid-murid pada
datang dan guru-guru lain juga berdatangan,"ujarnya.
Setelah wali
murid tersebut menampar, si wali murid kemudian mendatangi kepala
sekolah, kebetulan saat itu kepala sekolah sedang melaksanakan solat
akhirnya wali murid tidak jadi menjumpai kepala sekolah yang bernama
Jabril Ayub.
Nurbaiti dan guru-guru yang lain juga mengaku jika
Muhammad Rifki tersebut merupakan anak yang bandel dan seringkali tidak
mengerjakan Pekerjaan Rumah dan sering melawan kepada gurunya.
Nurbaiti
berharap, permasalahan itu diselesaikan dengan baik. Dirinya juga tidak
mau melaporkan kepada pihak Kepolisian karena selagi ada jalan untuk
berdamai dia sangat mengharapkan perdamaian.
Sementara itu,
Kepala Sekolah SDN 81 Kecamatan Marpoyan Jabril Ayub mengatakan, saat
ini pihaknya ingin melakukan jalur perdamaian dengan pihak wali murid
jika memang masih bisa ditempuh. Dirinya juga sangat mengesalkan aksi
wali murid tersebut yang sempat melakukan tindakan kekerasan hingga
mengeluarkan senjata api yang dipegangnya tersebut.
"Kami
berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik dan jangan
diperpanjang. Karena kita tidak mau berdampak nantinya kepada pendidikan
apalagi dihari PGRI ini,"ujar Jabril Ayub.
Sempat dilakukan
pertemuan antara pihak sekolah, guru dan wali murid yang dimediasi oleh
sebuah organisasi kemasyarakatan, namun belum menemukan kesepakatan yang
jelas.
Sementara itu, Syaid Nurjaya wali murid yang menampar
guru SD tersebut yang juga menjabat sebagai Kabid Perlindungan Dinas
Kehutanan Provinsi Riau ditemui wartawan saat mendatangi Sekolah
tersebut untuk langkah mediasi mengatakan dirinya menampar guru tersebut
karena tidak terima dengan perlakuan guru terhadap anaknya yang bernama
Muhammad Rifki tersebut.
"Seumur hidup anak saya belum pernah
ditampar dengan tangan saya. Makanya saya mendengar itu sakit hati dan
langsung membalas kepada guru yang menampar itu, muka anak saya ditampar
maka saya tampar muka gurunya, anak saya juga sempat ngomong, Jangan
ditamparlah buk, saya punya orangtua,"ujar Nurjaya kepada Wartawan.
Nurjaya
menambahkan, dirinya siap menghadapi apapun langkah yang dilakukan oleh
pihak sekolah, baik itu langkah hukum dan sebagainya.
"Saya
sudah siap berhenti dari jabatan saya saat ini, jika memang kasus ini
saya yang bersalah, karena ini mengenai kehormatan anak saya,"ujarnya.
Menurut
Nurjaya, setiap guru memiliki aturan main dan peraturan yang jelas,
jika memang anaknya bandel jangan main tampar dan aniaya.
"Saya
kesal sekali, karena guru itu punya pendidikan dan ada aturan mainnya.
Kalau anaknya ada salah surati orangtuanya jangan main hakim sendiri
dong,"jelasnya.
Nurjaya juga mengaku selama ini dirinya belum
pernah memukul dan menganiaya perempuan, namun karena dirinya terlanjur
sakit hati makanya emosi dia tidak bisa terkontrol.
"Saya belum pernah memukul seorang perempuan. Jika memang anak saya salah, saya juga selalu marahi dia,"ujarnya.(*)
Penulis : Nasyuha
Editor : zid
Sumber : Tribun Pekanbaru
Sungguh tragis, kashan bu guru nurbaiti
ReplyDelete